Halo, selamat datang di catatan pertama saya tentang Suara Hati Karyawan Swasta.
Kali ini saya akan bercerita tentang kehidupan KAMI (bukan hanya saya sendiri...) yang menjadi karyawan di salah satu Toko Bangunan di Gorontalo. Kami memang hanya memiliki Ijazah kecil, kami hanya mencari nfka seadanya, tapi di tempat kerja kami, kami merasa Bos kami hanya menggunakan tenaga kami untuk kepentingan mereka. Mungkin karena mereka berasal dari keluarga Tiong Hoa, jadi mereka hanya mencari keuntungan pribadi dengan tenaga kami para orang lemah.
Mungkin sebagian orang merasa tempat kerja kami adalah tempat kerja tersantai dari pada tempat kerja yang lain, tapi sayangnya itu hanya terlihat dari luar saja. Mereka tidak pernah tau apa yang terjadi di dalam.
Bisa kalian bayangkan, gaji pokok kami hanya berkisar Rp. 1,2jt - Rp. 1,5jt an saja, walaupun UMP di sini sangat jauh berbeda dengan gaji pokok kami, UMP di Gorontalo saat ini sekitar Rp. 2,03jt an, belum lagi kena denda jika terlambat lebih dari 5 menit, dendanya Rp 1.000/menit, sedangkan Gaji Lembur kami hanya Rp. 5.000/jam. Okelah kalau itu untuk meningkatkan kedisplinan kami, tapi itu belum seberapa. Masih banyak pula hal-hal yang menjengkelkan dengan peraturan yang tidak sesuai dengan gaji kami. Dan itu akan saya lanjutkan di catatan kedua saya.
Terima Kasih buat yang mau membaca curahan hati kami yang tak teratur ini, meskipun begitu kami masih akan terus mencatat kagiatan kami di sini, dan akan terus menjual tenaga kami dengan harga yang rendah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Karyawan Penjilat v2
Pernahkah Anda bekerja dengan seseorang yang selalu terlihat menyenangkan di depan atasan? Atau mungkin Anda sendiri memiliki kecenderungan ...
-
Pernahkah Anda bekerja dengan seseorang yang selalu terlihat menyenangkan di depan atasan? Atau mungkin Anda sendiri memiliki kecenderungan ...
-
"anda saat ini tidak boleh bergabung di obrolan terbuka" Pesan ini anda temui saat ingin masuk openchat atau obrolan chat Kakaot...
-
Sebagian besar karyawan swasta di kota kecil seperti tempat saya sering mengeluhkan tentang besarnya gap antara upah minimum provinsi (UMP)...
No comments:
Post a Comment