Karyawan Penjilat

Hai hai hai, duh udah lama gak update yah hehe...
Apa kabar kalian semua yg membaca postingan ini? saya harap kalian semua sehat selalu.


Bicara tentang <s>Penjilat</s>, kalian pasti tau fong seperti apa itu hehe..
Orang yg bicara sopan dan sangat santun tapi bicarakan kita di belakang, lalu memuji kita di depan kita.... cuih kok kzl rasanya haha.....

Di tempat kerjaku akhirnya datang juga orang yg seperti itu hadeuh.. apa ini? datang dari mana orang ini?
tapi yah mau gimana lagi, dan dia pun menjadi karyawan kesayangan bos kami. bah 🤦‍♂...

Yaudahlah setidaknya saya sendiri tetap berusaha kerja dengan lapang, yah demi pasangan dan si buah hati.. eh haha

sampe disini dulu lah tulisan saya kali ini

terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk mendengarkan curahan hati saya hehehe

see you next page

Cara Mudah Menjadi Karyawan Yang Di Sayang Bos

  Hai, Semuanya jumpa kembali bersama saya Nevets di catatan harian.
Di tulisan sebelumnya, saya membahas ketidak adilan bos terhadap karyawan swasta, tapi kali ini saya akan membagikan tutorial Menjadi karyawan yang di sayang bos tanpa mencari muka.

Oke, sebelum lanjut saya akan memberitahukan kepada kalian beberapa hal untuk dilakukan,.

  *Pertama: Jaga jarak dari pergaulan karyawan yang tidak baik.
  *Kedua: Giat melakukan kegiatan yang bersangkutan dengan pekerjaan, meskipun tidak di lihat bos.
  *Ketiga: Tetap tersenyum saat di tegur, tetap ramah dengan karyawan lain walaupun sering di jatuhkan.
  *Keempat: Selalu mengiyakan keputusan bos. Dan jangan pernah mengatakan tidak pada bos.

Itulah beberapa hal penting untuk menjadi karyawan yang di sayang bos tanpa mencari muka.
Keempat hal di atas sudah saya praktekkan dan hasilnya... banyak yang iri pada saya, padahal saya setiap mengerjakan sesuatu, tidak pernah memperlihatkan apa yang saya lakukan di depan bos, bahkan saya menjadi orang yang malas jika ada bos.
Lain halnya dengan karyawan lain yang sering bermain-main saat melakukan pekerjaan, apalagi saat bos tidak ada..... *KACAU*

Tapi setidaknya kami tetap menerima hasil dari kerja kami sesuai dengan tingkah laku dan perbuatan kami dengan pekerjaan kami, intinya mereka mendapatkan gaji sesuai dengan pekerjaan mereka, dan saya pun mendapat gaji dari hasil kerja keras saya.

Wah maaf kalau jadi kepanjangan ceritanya hah, karena sesuai judul dari blog saya ini Suara Hati Karyawan Swasta.
Oke sekian dulu tutorial kali ini, terima kasih yang sudah mau membaca tulisan saya ini dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Hari Minggu

  Selamat pagi semuanya, *menghela nafas* fiuhhhh...
Ini adalah catatan kedua saya.
Pertama-tama Selamat hari libur buat kalian semuanya, hari ini (hari minggu) di saat orang lain sedang berkumpul dengan keluarga mereka, sedang menikmati hari libur bersama pasangan, refreshing sembari menghilangkan penat selama seminggu penuh, Kami masih tetap bekerja seperti biasa. Tidak ada namanya Hari Libur.... *hening*

 Setiap hari terasa sama saja, tidak ada yang berbeda, setiap hari tetap bekerja tanpa henti, tanpa libur seharipun.

Salah seorang karyawan menyurahkan isi hatinya padaku, Katanya:"17 tahun adalah waktu yang sangat panjang, Tapi gaji saya masih tetap tertahan di angka Rp. 1,2jt. Hutang menumpuk karena gaji yang sangat kecil ini, tenaga yang saya berikan tidak sepadan dengan gaji yang saya dapatkan. Belum lagi untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, menghidupi 4 orang anak bersama ibunya (Istri saya). Dengan beban hidup yang sangat banyak ini,saya tidak bisa hanya punya 1 pekerjaan, alhasil saya bekerja juga di sebuah rumah makan atau kedai sepulang dari Toko ini. Bekerja full time sudah cukup untuk menghidupi Istri dan ke 4 anak saya."

Mendengar curahan hatinya itu membuat saya berfikir, Sebaik-baiknya Bos, tetap saja mereka hanya menginginkan tenaga kita tanpa memikirkan kehidupan kita. Mereka hanyan mementingkan keuntungan Pribadi mereka.

*huffft....*
Sekian dulu catatan saya Terima kasih....

Jangan lupa mampir ke catatan pertama saya....
dan juga tutorial cara mudah menjadi karyawan yang di sayang bos....

Toko Bangunan

   Halo, selamat datang di catatan pertama saya tentang Suara Hati Karyawan Swasta.
Kali ini saya akan bercerita tentang kehidupan KAMI (bukan hanya saya sendiri...) yang menjadi karyawan di salah satu Toko Bangunan di Gorontalo. Kami memang hanya memiliki Ijazah kecil, kami hanya mencari nfka seadanya, tapi di tempat kerja kami, kami merasa Bos kami hanya menggunakan tenaga kami untuk kepentingan mereka. Mungkin karena mereka berasal dari keluarga Tiong Hoa, jadi mereka hanya mencari keuntungan pribadi dengan tenaga kami para orang lemah.

Mungkin sebagian orang merasa tempat kerja kami adalah tempat kerja tersantai dari pada tempat kerja yang lain, tapi sayangnya itu hanya terlihat dari luar saja. Mereka tidak pernah tau apa yang terjadi di dalam.
 Bisa kalian bayangkan, gaji pokok kami hanya berkisar Rp. 1,2jt - Rp. 1,5jt an saja, walaupun UMP di sini sangat jauh berbeda dengan gaji pokok kami, UMP di Gorontalo saat ini sekitar Rp. 2,03jt an, belum lagi kena denda jika terlambat lebih dari 5 menit, dendanya Rp 1.000/menit, sedangkan Gaji Lembur kami hanya Rp. 5.000/jam. Okelah kalau itu untuk meningkatkan kedisplinan kami, tapi itu belum seberapa. Masih banyak pula hal-hal yang menjengkelkan dengan peraturan yang tidak sesuai dengan gaji kami. Dan itu akan saya lanjutkan di catatan kedua saya.

Terima Kasih buat yang mau membaca curahan hati kami yang tak teratur ini, meskipun begitu kami masih akan terus mencatat kagiatan kami di sini, dan akan terus menjual tenaga kami dengan harga yang rendah.

Salam Kenal

                 Hai, Salam kenal semuanya. Perkenalkan nama saya Nevets, Umur saya 26 tahun, bermukim di Provinsi Gorontalo.
Berhubung tulisan ini hanya untuk perkenalan pertama, maka saya akhiri dulu catatan saya ini. Di tulisan berikutnya saya akan bercerita tentang kehidupan Karyawan swasta yang ada di Gorontalo.

Selamat membaca keluhan hati rakyat kecil yang bekerja sebagai karyawan swasta, yang tidak pernah mendapat keadilan kerja, bahkan tidak mendapat LIBUR di hari LIBUR.

Karyawan Penjilat v2

Pernahkah Anda bekerja dengan seseorang yang selalu terlihat menyenangkan di depan atasan? Atau mungkin Anda sendiri memiliki kecenderungan ...